Total Tayangan Halaman

Rabu, 29 Desember 2010

Guru robot di Indonesia, perlukah?

Seorang guru tidak hanya diwajibkan untuk membuat anak didiknya pintar atau hanya menguasai akademis saja. Disini, konsep tentang penanaman nilai dan moral sangatlah penting. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan jika seorang gurunya dapat memberi contoh kebaikan dalam hidupnya kepada muridnya. Seperti pepatah Jawa, guru iku digugu lan ditiru.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perkembangan tekhnologi yang maju dengan pesat seperti sekarang ini kadang membuat kita berpikir nyaris tidak ada yang tidak mungkin. Manusia telah berhasil menciptakan teknologi seperti televisi 3 dimensi, membuat rancang bangunan yang megah, jembatan terpanjang yang sebelumnya hal-hal seperti ini tidak pernah kita pikirkan. Di negara dengan tekhnologi di atas rata-rata seperti Jepang, Korea, dan China bahkan telah menginjak aspek pengembangan robot untuk mempermudah kerja manusia nantinya.
Dalam berita terakhir seperti yang dikutip penulis dari Jawa  Pos edisi 29 Desember 2010 menyatakan bahwa di Korea Selatan, tepatnya di kota Daegu telah menggunakan jasa pengajar robot. Robot itu difungsikan untuk mengajar sekitar 21 sekolah dasar dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Pemerintah setempat sendiri mendatangkan 29 robot dengan biaya tiap robotnya berkisar antara 50-100 juta rupiah. Pengembangan robot yang berbentuk bulat telur dengan layar diatasnya dan mempunyai tinggi 1 meter ini dilaksanakan oleh The Korea of Science and Technology(KIST). Robot ini dapat membaca, berbicara, dan menari untuk keperluan pengajaran.
Display layar yang berada di atas robot ini menampilkan wajah seorang guru dari Filipina. Mereka membuat sensor agar robot dapat membaca dan menampilkan ekspresi guru tersebut dalam layar. Guru Filipina dipilih karena biaya mereka lebih murah dibandingkan dengan guru dari negara lain. Beberapa siswa yang ditanyai mengenai kinerja guru ini mengaku bahwa dengan adanya guru robot, mereka lebih tertarik untuk fokus ke pelajaran. Mereka juga tidak perlu merasakan nervous  saat mendengarkan pelajaran atau ditanyai guru tersebut. Namun pada dasarnya, dinas pendidikan setempat tidak berniat menggantikan guru robot dengan guru manusia meski guru robot juga menarik perhatian beberapa kaum dewasa untuk membelinya.
Fenomena tentang guru robot memang bukan yang pertama kali terdengar di dunia ini. Di Jepang bahkan sosok guru robot bisa menyerupai manusia sesungguhnya. Namun apakah guru robot ini memang relevan digunakan untuk mengajar siswa?. Tampaknya kita perlu berpikir ulang tentang ini. Secara sepintas memang guru robot mempunyai sedikit resiko dibandingkan dengan guru konvensional. Mereka tidak akan menuntut kenaikan gaji dan tunjangan atau melakukan demonstrasi jika aspirasinya tidak tercapai. Walau begitu, kita harus berpikir ulang jika meletakan dasar konsep tentang pemberian tugas peletakan nilai dan moral pada siswa. Guru robot tentu tidak bisa diprogram sekompleks mungkin menyerupai manusia hingga bisa mengajar nilai dan moral kepada siswa.
Jauh berpikir tentang kebutuhan bangsa kita, penulis menyatakan bahwa guru robot tidak perlu dipakai di negara kita. Penggunaan guru robot di Indonesia hanya akan menimbulkan masalah sosial baru yaitu meningkatnya pengangguran bagi profesi guru yang sebelumnya dipengang guru manusia. Selain itu, bangsa kita yang sedang krisis jati diri, moral serta nilai ini tidak bisa mendapatkan hal-hal kompleks mengenai berbagai kebaikan yang hanya dipunyai manusia jika memakai guru robot. Tugas seorang guru manusia juga bukan hanya membuat manusia pandai dengan apa yang dia ajarkan tetapi juga haruslah dapat mengubah perilaku manusia. Mengubah dari yang tidak beradap menjadi beradap. Robot hanyalah hasil dari peradaban manusia, lalu apakah mungkin bila hasil dari ciptaan manusia dibuat untuk mencetak manusia dengan peradaban yang lebih maju? 

0 komentar:

Posting Komentar